Setahun Sritex Tutup, 8.475 Eks Pekerja Masih Menanti Hak

Setahun Sritex Tutup, 8.475 Eks Pekerja Masih Menanti Hak
Para eks pekerja Sritex menggelar doa bersama di depan pintu gerbang pabrik di Sukoharjo, Jumat (28/1/2026) sore hari.

Andalasinfo.com, SUKOHARJO — Setahun berlalu sejak PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) menghentikan operasionalnya. Namun bagi ribuan mantan pekerja, waktu seakan berhenti di gerbang pabrik yang kini sunyi. Hak-hak normatif yang dijanjikan belum juga mereka terima.

Puluhan eks pekerja PT Sri Rejeki Isman atau Sritex menggelar doa bersama saat momen satu tahun tutupnya perusahaan di depan gerbang pabrik di Sukoharjo, Sabtu (28/2/2026) sore. Mereka menuntut transparansi serta kepastian waktu penyelesaian hak-hak pekerja secara tuntas.

Pantauan Espos, Sabtu, puluhan eks pekerja Sritex berkumpul di depan gerbang pabrik sekitar pukul 16.30 WIB. Mereka mengenakan kaus serba hitam sebagai simbol duka atas tumbangnya perusahaan tekstil raksasa tersebut. Kegiatan diawali dengan pembacaan refleksi satu tahun tutupnya Sritex oleh perwakilan eks pekerja.

Suasana berlangsung khidmat. Gerbang yang dulu menjadi pintu keluar-masuk ribuan buruh kini menjadi saksi bisu kegelisahan mereka.

Setahun Berlalu, Kepastian Belum Tiba

Orasi kemudian disampaikan Koordinator Forum Eks Pekerja Sritex Sukoharjo, Agus Wicaksono. Ia menegaskan bahwa satu tahun penutupan Sritex belum menghadirkan kepastian bagi para buruh.

“Satu tahun tutupnya Sritex menjadi momentum untuk terus memperjuangkan hak-hak pekerja seperti pesangon dan tunjangan hari raya (THR) yang belum dibayarkan hingga sekarang. Satu tahun Sritex tumbang, satu tahun hak eks pekerja tak kunjung datang,” kata dia.

Agus mengajak para eks pekerja mengenang peristiwa setahun lalu. Kala itu, jajaran direksi dan ribuan pekerja berkumpul di halaman pabrik. Mereka duduk bersila di sekitar patung pendiri Sritex, HM Lukminto.

Dalam momen pamitan itu, mereka menyanyikan lagu Kenangan Terindah dari grup band Samsons. Lagu yang seharusnya menjadi simbol perpisahan penuh kenangan, justru kini terasa getir.

“Genap setahun, ternyata belum menjadi kenangan terindah bagi eks pekerja Sritex. Kami akan terus berjuang agar eks pekerja Sritex segera mendapatkan hak-haknya normatifnya,” ujar dia.

Saat ini, nasib 8.475 eks pekerja Sritex masih terkatung-katung dalam ketidakpastian. Tekanan ekonomi terus membayangi, terlebih bagi mereka yang menjadi tulang punggung keluarga.

“Padahal, hampir separuh eks pekerja Sritex berusia di atas 50 tahun. Bukan lagi usia produktif yang bisa kembali bekerja di perusahaan. Mereka saat ini menganggur karena terganjal usia,” papar dia.

Bagi para eks pekerja, doa bersama bukan sekadar seremoni tahunan. Itu adalah penanda bahwa perjuangan belum usai, bahwa di balik sunyinya mesin-mesin pabrik, masih ada ribuan keluarga yang menanti kepastian hak.

Leave a Reply