Andalasinfo.com, JAKARTA — Aliansi Wirausaha Kebangsaan Indonesia (AWKI) mengingatkan Pemerintah RI mengenai potensi dampak serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran terhadap penyelenggaraan ibadah haji dan umrah pada tahun 2026 ini.
Ada kemungkinan keberangkatan ibadah haji dan umrah tertunda. “Mungkin keberangkatan umrah dan haji bisa tertunda, dan itu akan membawa dampak atau akibat kepada pemerintah,” kata Dewan Pembina AWKI Yudhiawan Wibisono seperti dilansir Antara, Minggu (1/3/2026).
Tak hanya itu, lanjut dia, konflik di Timur Tengah tersebut juga bisa berdampak terhadap perekonomian nasional lantaran peperangan dapat menghilangkan nyawa, harta, dan benda. Inspektur Jenderal (Irjen) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) itu menegaskan Indonesia sebagai negara cinta damai mengutuk segala bentuk peperangan.
Dewan Pembina AWKI lainnya, Mayjen TNI (Purn) Rido Hermawan, memandang serangan AS-Israel ke Iran dapat berdampak terhadap jalur penting energi dunia, yakni Selat Hormuz. “Kita tahu semua bahwa pada saat ini yang namanya Selat Hormuz itu kan sekarang diblok, dikuasai oleh Iran,” ujar dia.
Padahal, kata dia, hampir 20 persen perputaran gas alam cair maupun minyak dunia melalui jalur tersebut, sehingga dapat berdampak pada sektor energi nasional, dan harga bahan bakar minyak di dalam negeri. “Itu juga akan berpengaruh terhadap kita, terutama masalah di sektor energi,” katanya.
Oleh sebab itu, dia mendorong pemerintah untuk mengupayakan program penghematan energi hingga penguatan pangan.
Langkah Darurat
Sementara itu, anggota Komisi VIII DPR Maman Imanul Haq meminta pemerintah melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di kawasan Timur Tengah mengambil langkah darurat guna melindungi ribuan orang jemaah umrah asal Indonesia di Tanah Suci.
“Keselamatan dan perlindungan WNI harus menjadi prioritas utama. Negara wajib hadir memastikan mereka dalam kondisi aman, mendapatkan logistik yang cukup, serta kepastian informasi,” ujar Maman, Minggu.
Sebagai informasi, serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran memicu penutupan wilayah udara di sekitar zona konflik, dan mengakibatkan tertahannya jemaah umrah di berbagai bandara transit. Lebih lanjut, Maman meminta koordinasi lintas sektoral yang intensif antara Kementerian Luar Negeri, Kementerian Haji dan Umrah, dan Kementerian Perhubungan.
Menurut dia, koordinasi tersebut diperlukan untuk menyusun skema mitigasi konkret. Misalnya mulai dari pengalihan rute penerbangan hingga penyediaan akomodasi sementara bagi jemaah terlantar di negara transit.
“Kami meminta pemerintah melakukan langkah mitigasi cepat. Mulai dari pendataan jemaah terdampak, penyediaan akomodasi hingga skema pemulangan yang aman jika situasi memungkinkan. Jangan sampai jemaah dibiarkan tanpa kepastian di bandara,” katanya.
Sementara itu, dia juga menekankan adanya pusat informasi resmi satu pintu untuk mencegah kepanikan keluarga para jemaah umrah di Indonesia. Oleh sebab itu, dia mengingatkan pemerintah agar aktif memberikan perkembangan informasi secara berkala kepada masyarakat agar tidak terjebak informasi hoaks di media sosial.
“Pemerintah harus menjadi rujukan utama informasi dalam situasi krisis ini. Jangan sampai keluarga jemaah mendapatkan informasi dari sumber yang tidak valid,” ujarnya.
Jemaah Umrah Diminta Tenang
Selain itu, dia mengimbau penyelenggara ibadah umrah agar aktif berkoordinasi dengan KBRI untuk memastikan pendampingan terhadap jemaah.
Sementara untuk para jemaah, dia mengajak mereka untuk tetap tenang dan mengikuti instruksi otoritas setempat maupun perwakilan RI di negara tempat mereka transit. “Kami berharap jemaah umrah tetap tenang, dan memprioritaskan keselamatan diri,” katanya.
Ia memastikan Komisi VIII DPR akan terus mengawal perkembangan situasi ini hingga seluruh WNI dipastikan berada dalam posisi aman. Pada kesempatan berbeda, Kementerian Haji dan Umrah menyatakan memantau secara ketat kondisi para jemaah di Arab Saudi menyusul serangan AS-Israel terhadap Iran.
Berdasarkan laporan melalui Sistem Komputerisasi Pengelolaan Umrah dan Haji Khusus (SISKOPATUH), tercatat sekitar 58.873 orang jemaah umrah Indonesia masih berada di Arab Saudi. Kementerian Haji dan Umrah mengimbau calon jemaah umrah menunda keberangkatannya.
Diberitakan sebelumnya, AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Presiden AS Donald Trump menyatakan militer AS telah memulai operasi tempur besar-besaran di Iran.
Salah satu serangan AS dan Israel berupa tujuh roket yang menghantam Teheran dan dekat dengan kediaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Kemudian, Iran meluncurkan serangan roket terhadap Israel, dan sejumlah target lain di Qatar, Uni Emirat Arab, hingga Bahrain.
Pada 1 Maret 2026, pemerintah Iran mengonfirmasi pemimpin tertinggi mereka, Ali Khamenei, gugur dalam serangan tersebut dan menyatakan masa berkabung 40 hari serta libur kerja selama sepekan.
Leave a Reply